1. Semua Orang Akan Butuh Kacamata Untuk Membaca Ketika Mereka Mulai Menua
Jika
anda sedang membaca artikel ini dan berumur di bawah 40 tahun dengan
jarak penglihatan sempurna, saya dapat mengatakan dengan (kepastian yang
mutlak) bahwa Anda akan memerlukan kacamata untuk membaca di beberapa
titik di masa depan. 99% penduduk dunia akan membutuhkan kacamata baca
pada usia antara 43-50 tahun. Hal ini karena perlahan mata mulai
kehilangan kemampuan fokusnya seiring bertambahnya usia. Ketika kita
melihat benda-benda di sekitar kita, lensa kita berubah dari bentuk flat
ke bentuk yang lebih bulat, dan kita akan kehilangan kemampuan ini
ketika kita mulai tua. Dan ketika kita berumur sekitar 45 tahun, kita
akan mulai melihat hal-hal yang lebih jauh dari kita untuk membuat lensa
mata kita tetap fokus.
2. Lensa Di Mata Kita Lebih Cepat Dari Lensa Kamera Manapun
Tepat
di belakang pupil mata kita terdapat lensa mata yang fungsinya untuk
fokus pada obyek yang sedang kita lihat. Coba anda luangkan waktu
sebentar untuk melirik ke sekeliling ruangan dan coba anda pikir berapa
banyak jarak antara anda dan benda di sekeliling anda. Setiap kali kita
melakukan ini, lensa mata kita mengubah fokusnya tanpa kita sadari.
Bandngkan dengan lensa kamera yang butuh waktu beberapa detik untuk
antara jarak satu dan lainnya. Bersyukurlah kita lensa mata kita bisa
secepat itu, dan bisa terus berubah-ubah setiap saatnya.
3. Mata Kita Sepenuhnya Berkembang Pada Umur 7 Tahun
Pada
usia 7 tahun mata kita telah sepenuhnya berkembang, dan secara
fisiologis memiliki bentuk yang sama dengan mata orang dewasa. Hal
tersebut dapat dijadikan sebagai alasan yang penting untuk menyembuhkan
“mata malas” (suatu keadaan dimana ketajaman penglihatan tidak dapat
optimal) sebelum kita mencapai umur ini. Semakin awal “mata malas”
didiagnosis maka semakin besar kesempatan untuk menyembuhkannya, karena
mata masih berkembang dan masih dapat berubah dalam penglihatan. Setelah
usia 7 tahun tidak ada perawatan yang mampu mengubah penglihatan mata.
4. Mata Kita Berkedip Sekitar 15.000 Kali Setiap Hari
Berkedip
merupakan fungsi mata yang semi disengaja, ini berarti bahwa berkedip
tidak hanya dilakukan secara otomatis, tetapi orang juga dapat memaksa
untuk berkedip bila diperlukan. Mata berkedip kira-kira 15.000 kali per
hari. Berkedip adalah fungsi yang sangat penting dari mata Anda karena
membantu menghilangkan kotoran pada permukaan mata Anda, dengan
menyebarkan air mata segar di atas mereka. Air mata ini membantu untuk
menyehatkan mata Anda dengan oksigen dan juga memiliki sifat
anti-bakteri penting. Anda dapat mengasumsikan fungsi berkedip mirip
dengan fungsi wiper pada mobil anda, membersihkan dan menghapus segala
sesuatu untuk membuat Anda melihat dengan jelas.
5. Setiap Orang Akan Mengalami Katarak Ketika Mereka Tua
Orang
tidak menyadari bahwa katarak merupakan sebuah konsekuensi normal
ketika mencapai usia tua dan setiap orang akan mengalaminya pada saat
tertentu pada usia tua mereka. Anda dapat menganggap katarak sama dengan
rambut yang berubah menjadi putih yang merupakan perubahan alami
seiring bertambahnya usia. Rata-rata usia orang pertama kali mendapatkan
katarak adalah sekitar usia 70 tahun dan 80 tahun, Anda dijamin akan
memiliki katarak! Ini sama dengan Anda tidak mungkin menemukan orang
berusia 80 tahun tanpa rambut putih, begitupun anda tidak akan menemukan
orang berusia 80 tahun tanpa menderita katarak.
6. Diabetes Sering Dideteksi Pertama Kali Dengan Melakukan Tes Mata
Orang
yang menderita diabetes tipe 2 (jenis yang akan berkembang di kemudian
hari) sering mengalami gejala-bebas, yang berarti mereka sering tidak
tahu bahwa mereka menderita diabetes. Jenis diabetes ini biasanya dapat
diketahui dengan tes mata, karena dapat dilihat sebagai perdarahan kecil
dari pembuluh darah yang bocor di belakang mata Anda. Hal ini tentu
merupakan alasan yang baik untuk melakukan tes mata secara rutin.
7. Orang Melihat Dengan Menggunakan Otak, Bukan Mata
Fungsi
mata Anda adalah untuk mengumpulkan semua informasi yang diperlukan
tentang obyek yang ingin anda lihat. Informasi ini kemudian akan
diteruskan dari mata Anda ke otak melalui saraf optik. Ini adalah otak
(korteks visual) dimana semua informasi ini dianalisis untuk
memungkinkan Anda untuk 'melihat' benda-benda dalam bentuk jadinya. Ini
bukan untuk mengatakan bahwa mata anda tidak memainkan peran penting
karena tentu saja mereka mempunyai peran yang penting.
Senin, 16 April 2012
BEBERAPA FAKTA SUNGAI DI DUNIA
Sudah tak dapat
dipungkiri lagi bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa air. Beberapa kata yang
mengambang di otak kita saat kita membahas air adalah laut dan sungai. Sungai
merupakan salah satu unsur alam ciptaan Tuhan yang luar biasa. Banyak keajaiban
dan hal-hal yang belum kita ketahui tentang sungai. Berikut adalah beberapa
fakta tentang sungai dan sekitarnya yang ada di dunia.
1) Di bawah Sungai Nil ada sebuah sungai.
2) Dulu, sungai terpanjand di dunia adal
sungai misisipi. Namun setelah berkembangnya teknologi, Sungai Nil dan Sungai
Amazon dapat diukur secara akurat dan menggeser sungai Misisipi di urutan ke-3.
3) Apabila Sungai Misisipi tidak diukur dari
hulunya, panjangnya tidak masuk 10 besar di dunia.
4) Anak Sungai Amazon yang paling panjang adalah
Sungai Maranon. Panjangnya 3.240 km.
5) Sungai Amazon dan seluruh anak sungai
beserta cabangnya berjumlah sekitar 15.000 buah.
6) Sungai Nil sering banjir saat musim
kemarau.
7) Hujan di dataran tinggi Ethiopia dapat
menyebabkan naiknya ketinggian Sungai Nil lebih dari 7 m serta menyebabkan
banjir.
8) Banjir di Sungai Nil dimanfaatkan untuk
mengairi sawah. Hal ini disebabkan tanah yang terbawa banjir dari Ethiopia
banyak mengandung unsure hara.
9) Daerah aliran sungai Amazon yang mengaliri
Brazil adalah yang terluas. Luasnya 7.050.000 km2. Volume airnya pun
terbesar.
10) Di
pinggiran sungai Nil banyak ditemukan Pohon Papirus, bahan pembuat kertas yang
telah digunakan 5.000 tahun lalu.
11) Kata ‘paper’
dalam Bahasa Inggris diambil dari kata ‘papirus’
12) Danau Nasser adalah danau buatan manusia
terbesar di dunia, dengan luas 5.000 km2 yang terletak di Sungai
Nil.
13) Bendungan Aswan memiliki tinggi 100m dan
panjang 3600m yang memakan waktu 10 tahu dalam pembuatanya. Bendungan ini
terletak berdampingan dengan Danau Nasser.
14) Berkat dibangunnya bendungan Aswan, sebuah
lading dapat panen 2-3 kali dalam setahun.
15) Di Sungai Nil dan Asia Tenggara, hidup
Buaya Ceruk yang memangsa manusia.
16) Panjang Buaya Ceruk di Sungai Nil dapat
mencapai 7m.
17) Sungai Nil berasal dari cabang dua aliaran yaitu Sungai Nil Biru dan Sungai
Nil putih.
18) Tahun 1770, James Bruce menemukan bahwa
sungai Nil biru berasal dari danau Tana.
19) DI KHARTOUM yang berarti hidung gajah
merupakan sebutan bergabungnya Sungai Nil biru dan putih.
20) Penamaan Sungai Nil biru dan putih
berdasarkan warna airnya!!
21) Sungai Nil berasal dari Danau Victoria.
22) Danau Victoria ditemukan oleh John Speke.
23)Volume Air di danau Victoria 5 kali lipat
dari vulum air di sungai Nil.
24) Namun, bukan berarti Sungai Nil berawal
dari danau Victoria. Hal ini disebabkan karna Danau Victoria berasal dari
sebuah sungai. Yaitu Sungai Kagera.
25) Menurut Stanley dari AS, Hulu Sungai
Kagera merupakan titik awal Sungai Nil.
26) Sungai Kagera berawal dari Pegunungan
Ruwenzori.
27) Sungai Kuning di Cina merupakan sungai
yang paling banyak mengalirkan lumpur dan tanah.
Nah, itu semua
merupakan keajaiban Sungai dan sekitarnya yang diberikan oleh Tuhan kepada Bumi
kita tercinta ini. Tugas kita sebagai mahkluk ciptaan-Nya tetnu saja adalah
merawat pemberian Tuhan tersebut. Semoga Bermnfaat =)
Selasa, 10 April 2012
7 MATA UANG TERTUA DI INDONESIA
Negara Indonesia (atau lebih saya sebut sebagai nusantara) terbilang sebagai salah satu kawasan yang mempunyai peradaban yang cukup tinggi dan maju, namun dalam urusan mata uang, indonesia masih terbilang muda dalam mengenal mata uang. tercatat negeri ini baru mempunyai uang resmi pada abad ke 8, itupun karena adanya pengaruh dari negara-negara tetangga yang saat itu sudah mempunyai mata uang sendiri (China dan India)
berikut ini, kami berikan daftar 7 mata uang tertua di indonesia :
Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :
* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak
Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.
Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.
Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.
Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali, termasuk di situs kota Majapahit, kebanyakan berupa uang “Ma”, (singkatan dari māsa) dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan ta dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.
Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segiempat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar. Tanda tera atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga (teratai?) dalam bidang lingkaran atau segiempat. Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.
pada zaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.
Mata uang emas dari Kerajaan Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.
Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.
Mata-uang dari Kesultanan banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.
berikut ini, kami berikan daftar 7 mata uang tertua di indonesia :
1. Uang Syailendra (850 M)
Mata uang Indonesia dicetak pertama kali sekitar tahun 850/860 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama, dan mempunyai beberapa nominal :
* Masa (Ma), berat 2.40 gram; sama dengan 2 Atak atau 4 Kupang
* Atak, berat 1.20 gram; sama dengan ½ Masa, atau 2 Kupang
* Kupang (Ku), berat 0.60 gram; sama dengan ¼ Masa atau ½ Atak
Sebenarnya masih ada satuan yang lebih kecil lagi, yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).
Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatik, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.
Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa), dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.
2. Uang Krishnala, Kerajaan Jenggala (1042-1130 M)
Pada zaman Daha dan Jenggala, uang-uang emas dan perak tetap dicetak dengan berat standar, walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya. Koin emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi bundar, sedangkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung, dengan diameter antara 13-14 mm.
Pada waktu itu uang kepeng Cina datang begitu besar, sehingga saking banyaknya jumlah yang beredar, akhirnya dipakai secara “resmi” sebagai alat pembayaran, menggantikan secara total fungsi dari mata uang lokal emas dan perak.
3. Uang "Ma", (Abad ke-12)
Mata uang Jawa dari emas dan perak yang ditemukan kembali, termasuk di situs kota Majapahit, kebanyakan berupa uang “Ma”, (singkatan dari māsa) dalam huruf Nagari atau Siddham, kadang kala dalam huruf Jawa Kuno. Di samping itu beredar juga mata uang emas dan perak dengan satuan tahil, yang ditemukan kembali berupa uang emas dengan tulisan ta dalam huruf Nagari. Kedua jenis mata uang tersebut memiliki berat yang sama, yaitu antara 2,4 – 2,5 gram.
Selain itu masih ada beberapa mata uang emas dan perak berbentuk segiempat, ½ atau ¼ lingkaran, trapesium, segitiga, bahkan tak beraturan sama sekali. Uang ini terkesan dibuat apa adanya, berupa potongan-potongan logam kasar; yang dipentingkan di sini adalah sekedar cap yang menunjukkan benda itu dapat digunakan sebagai alat tukar. Tanda tera atau cap pada uang-uang tersebut berupa gambar sebuah jambangan dan tiga tangkai tumbuhan atau kuncup bunga (teratai?) dalam bidang lingkaran atau segiempat. Jika dikaitkan dengan kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960 – 1279) yang memberitakan bahwa di Jawa orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, mungkin itulah yang dimaksud.
4. Uang Gobog Wayang, Kerajaan Majapahit (Abad k-13)
pada zaman Majapahit ini dikenal koin-koin yang disebut “Gobog Wayang”, dimana untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Thomas Raffles, dalam bukunya The History of Java. Bentuknya bulat dengan lubang tengah karena pengaruh dari koin cash dari Cina, ataupun koin-koin serupa yang berasal dari Cina atau Jepang. Koin gobog wayang adalah asli buatan lokal, namun tidak digunakan sebagai alat tukar. Sebenarnya koin-koin ini digunakan untuk persembahan di kuil-kuil seperti yang dilakukan di Cina ataupun di Jepang sehingga disebut sebagai koin-koin kuil. Setelah redup dan runtuhnya kerajaan Majapahit di Jawa Timur (1528), Banten di Jawa bagian barat muncul sebagai kota dagang yang semakin ramai.
5. Uang Dirham, Kerajaan Samudra Pasai (1297 M)
Mata uang emas dari Kerajaan Samudra Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar 1297-1326. Mata uangnya disebut Dirham atau Mas, dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang). Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 Kupang atau 3 Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang setengah Mas berdiameter 6 mm. Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”.
6. Uang Kampua, Kerajaan Buton (Abad ke-14)
Uang yang sangat unik,yang dinamakan Kampua dengan bahan kain tenun ini merupakan satu-satunya yang pernah beredar di Indonesia. Menurut cerita rakyat Buton, Kampua pertamakali diperkenalkan oleh Bulawambona,yaitu Ratu kerajaan Buton yang kedua,yang memerintaha sekitar abad XIV. Setelah ratu meninggal,lalu diadakan suatu “pasar” sebagai tanda peringatan atas jasa-jasanya bagi kerajaan Buton. Pada pasar tersebut orang yang berjualan engambil tempat dengan mengelilingi makam Ratu Bulawambona. Setelah selesai berjualan,para pedagang memberikan suatu upetiyang ditaruh diatas makam tersebut,yang nantinya akan masuk ke kas kerajaan. Cara berjualan ini akhirnya menjadi suatu tradisi bagi masyarakat Buton,bahkan sampai dengan tahun 1940.
7. Uang Kasha Banten, Kesultanan Banten (Abad ke-15)
Mata-uang dari Kesultanan banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi. Bentuk koin Banten mengambil pola dari koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khasnya 6 segi pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi pada bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”. Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”. Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada akhir-akhir ini.
Langganan:
Postingan (Atom)






